Menjaring Rupiah Lewat Pariwisata Berbasis Sawah

Menjaring Rupiah Lewat Pariwisata Berbasis Sawah

Berangkat dari keinginan mengangkat derajat ekonomi kaum petani, sebuah destinasi wisata berbasis sawah sukses dikembangkan oleh warga Desa Brondongrejo Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo. Kendati baru 6 bulan dibuka, destinasi bernama Pasar Inis mampu menjadi pesona baru dan menyedot perhatian banyak kalangan.

EKO SUTOPO, Purworejo

AREA persawahan yang menjadi pusat Pasar Inis Desa Brondongrejo ramai pengunjung, Minggu (7/10) pagi. Di lahan pinggiran yang tidak lebih luas dari lapangan sepak bola itu, ratusan warga menyatu menikmati nuansa pasar tradisional yang menyajikan ragam kuliner ala desa, seperti sega pincuk, tiwul, geblek, jagung rebus, dan wedang telang tanpa selang.

Seiring terbitnya matahari, sekelompok remaja tampak santai duduk lesehan di tikar sambil sesekali mengabadikan diri. Anak-anak didampingi orang tuanya asyik bermain serta memilih jajanan ndeso yang kini jarang dijumpai. Semakin siang, para pedagang yang mengenakan caping serta kostum khas petani semakin sibuk melayani pembeli.

Sementara di sudut pasar, puluhan personel Koramil Purwodadi bersama para lansia menambah semarak dengan mengajak pengunjung senam bersama.

Sejumlah tokoh turut membaur. Antara lain Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Bambang Gatot Seno Aji SE, perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud), serta Muspika Purwodadi.

Ya, pemandangan pagi itu memang lebih ramai dari hari libur atau Minggu biasanya. Warga Desa Brondongrejo sengaja menyuguhkan suasana berbeda untuk mensyukuri usia Pasar Inis yang telah memasuki 6 bulan.

Selain aktivitas Car Free Day (CFD) dengan rute jalan perkampungan pinggir sawah yang telah menjadi rutinitas, sejumlah event digelar sejak sekitar pukul 05.00 hingga 09.00 WIB. Ada panggung tembang kenangan yang difasilitasi Kantor Kesbangpol, Senam Inis, Tumpeng Merah Putih “Kasat”, dan Mewarnai gambar bareng komunitas remaja Kinjeng Brondongrejo. Ada pula aksi sosial doa bersama bagi korban bencana Sulawesi yang dipimpin tokoh lintas agama.

“Hari ini kita angkat tema Ka Sat yang dalam bahasa Jawa kuno berarti keenam. Ini menjadi wujud syukur warga karena Pasar Inis yang dirintis 6 bulan lalu bisa bertahan dan berkembang,” kata Kadarno, Kepala Desa Brondongrejo.

Perkembangan Pasar Inis memang sangat pesat sejak kali pertama dibuka pada 8 April 2018 lalu. Terbukti, jumlah lapak yang dikelola oleh 10 dasa wisma terus bertambah. Keberadaan Pasar Inis yang hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat kota Purworejo ke arah tenggara juga berhasil menarik perhatian publik. Tercatat Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM serta para pejabat Forkominda pernah mendatangi destinasi wisata baru ini. Ada juga dari luar daerah, di antaranya Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Jawa Tengah.

“Dulu awalnya hanya 3 lapak, tapi sekarang sudah ada 10 lapak utama. Pengunjung dari luar desa juga terus meningkat,” sebutnya.

Melimpahnya pengunjung membuat warga lebih mudah menjaring rupiah. Dalam sepekan saja, satu lapak rata-rata bisa meraup omzet antara Rp700 ribu hingga Rp2 juta. Penghasilan tambahan yang lumayan bagi warga yang mayoritas petani.

“Kami bangga dengan semangat warga. Selain menambah penghasilan bagi keluarga, mereka juga mengangkat nama desa yang sebelumnya tidak banyak dikenal ini,” kata Ester Yuniastuti, Ketua Paguyuban Pasar Inis.

Rasa bangga juga dirasakan Rianto Purnomo, warga setempat yang menjadi fasilitator Pasar Inis dari Yayasan Bintang Paseban. Terlebih, pria yang dikenal sebagai seniman tari Purworejo ini mengetahui betul proses dan perjuangan warga sejak awal.

“Pasar Inis berangkat dari adanya keinginan untuk menguatkan kebanggaan masyarakat menjadi petani. Kita tidak rela melihat petani terpuruk ekonominya, apalagi sampai menjual sawah,” ujar Purnomo.

Pasar Inis dipilih menjadi tematiknya. Kosa kata itu merujuk kebiasaan masyarakat desa, yakni ‘Nginis’ yang berarti mencari udara segar sambil bersantai.

“Lokasi Pasar Inis sebenarnya ya di semua tempat di desa ini, tapi untuk pusatnya memang disini,” katanya.

Lahan yang ditempati sebagai pusat Pasar Inis disediakan gratis oleh warga. Dari kisah-kisah yang berhasil dikorek masyarakat, pada zaman dulu daerah itu menjadi pusat pasar ‘urup-urup’ atau jual beli dengan sistem barter.

“Jadi kita ingin angkat kembali suasana jual beli tradisional yang sudah lazim itu, dipadukan dengan kebutuhan wisata sekarang,” lanjutnya.

Perlahan-lahan Pasar Inis mampu menepis anggapan pesimistis bahwa penghasilan petani hanya terbatas pada panen padi. Didukung dengan potensi seni dan budaya, penduduk di Brondongrejo yang tidak lebih dari 130 KK pun sepakat mengembangkan sebuah destinasi wisata

“Sekarang kesadaran anggota Paguyuban Pasar Inis untuk mempertahankan kualitas dan menambah keilmuan sudah tumbuh. Bayangkan, mereka sampai menyisihkan uang hasil jualan untuk studi banding. Dan itu tidak diarahkan,” bebernya.

Kegigihan Brondongrejo dalam mengembangkan dan mempertahankan Pasar Inis mendapatkan pengakuan dari Kementerian Pariwisata RI. Pada tanggal 28 Oktober 2018 mendatang, Pasar Inis akan diresmikan sebagai Pasar Destinasi Digital.

“Warga tidak hanya memasarkan produk kuliner, tapi juga kerajinan. Dan mereka juga memasarkan lewat online,” pungkas Purnomo.

Predikat Pasar Destinasi Digital untuk Desa Brondongrejo dinilai layak oleh Kepala Dinparbud Kabupaten Purworejo, Agung Wibowo. Menurutnya, pasar Inis menjadi salah satu pionir perkembangan pasar digital di Purworejo. Dengan mengangkat wisata berbasis kawasan persawahan, Desa Brondongrejo sekaligus menjadi pesona baru di Purworejo.

“Konsep pasar sebagai tempat jual beli dikolaborasikan dengan sektor kepariwisataan, sehingga selain menonjolkan kekhasan pasar tradisional Indonesia, sekaligus sebagai tempat hiburan, rekreasi, olahraga dan ajang tampilan seni budaya,” ungkap Agung Wibowo.

Sementara Bambang Gatot Seno Aji menyebut, Pasar Inis turut mendukung Program Kesbangpol, yakni ketahanan ekonomi dengan keterlibatan masyarakat.

“Kami sangat bangga, apalagi bisa menyatukan lintas agama dan menjunjung budaya kerukunan warga,” tandas Gatot. (*)

Share